Rabu, 27 Oktober 2010

Tamasya ke Dunia Satwa

the Capture: Guardians of Ga’hoole #1Siapa bilang bahwa dunia fiksi hanya monopoli ras manusia? Nyatanya, dunia satwa pun jika diracik dengan menarik, dibumbui berbagai intrik dan perilaku laiknya manusia mampu menjadi sajian buku cerita yang sedap disantap.

Asumsi tersebut terbukti dengan kehadiran buku berjudul lengkap Guardians of Ga’hoole: The Capture ini. Mengisahkan tentang dunia fauna berjenis Burung Hantu yang dikenal sebagai binatang malam, pemalu serta sulit ditemukan secara liar. Dengan tokoh utamanya bernama Soren.

Lahir dari keluarga Burung Hantu Barn. Soren bersama ayahnya Noctus dan ibunya Marilla serta dua orang saudaranya Kludd dan Eglantine, tinggal dengan tenteram di sebuah pohon besar dalam hutan Tyto atau yang biasa dikenal dengan sebutan Tyto Alba, ditemani Mrs. Plithiver, ular buta yang menjadi pembantu keluarga.

Kedamaian tersebut pecah ketika Soren terjatuh dari rumahnya saat ia baru berusia dua minggu sehingga belum mampu mengepakkan sayap untuk terbang. Sialnya peristiwa tersebut terjadi ketika kedua orang tuanya tidak berada di rumah, tengah berburu mencari makanan. Sedangkan Mrs. Plithiver yang setia tidak mampu berbuat banyak karena intimidisi Kludd, dalang tragedi ini.

Akibatnya, Soren diculik oleh pasukan patroli St. Aegolius. Sebuah perkumpulan misterius yang tengah berusaha menyusun kekuatan dengan mengumpulkan telur-telur dari berbagai sub-ras dan kerajaan burung hantu untuk ditetaskan sekaligus dibentuk pasukan perang, dengan berkedok sekolah yatim piatu.

Gerombolan ini dipimpin oleh Skench, burung hantu bertanduk yang jahat. Dengan mengandalkan para prajuritnya terutama Spoorn, Jatt dan Jutt, Skench melakukan penculikan ke kerajaan-kerajaan burung hantu lain, baik secara diam-diam seperti yang dialami Soren, maupun melalui agresi militer besar-besaran dengan membinasakan kerajaan sasaran.

Untungnya Soren mendapatkan seorang teman yang cerdas di sekolah yatim piatu ini bernama Gylfie. Seperti halnya Soren, Gylfie pun selamat dari upacara “pembingungan”, sebuah prosesi yang bertujuan untuk menghilangkan memori para tawanan serta mematikan harapannya untuk kabur atau memberontak. Keduanya pun kemudian merencanakan pelarian, meskipun baru sekali berlatih terbang kepada burung hantu yang baik hati, Grimble.

Lolos dari sarang St. Aegolius, keduanya langsung melakukan pencarian terhadap keberadaan keluarga masing-masing. Sayang misi tersebut gagal, karena baik orang tua Soren maupun Gylfie, sudah tidak berada di tempatnya masing-masing. Di tengah kebingungan, keduanya berkenalan dan bersahabat dengan Twilight dan Digger. Berempat mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan ke sungai Hoole, tempat dimana tumbuhnya pohon Ga’Hoole nan legendaris.

Novel yang filmnya tengah diputar di bioskop seluruh Tanah Air ini, memiliki cerita yang unik. Selain mengangkat dunia burung hantu sebagai latarnya yang memang belum pernah ada, juga kekuatan ceritanya yang membuat para burung hantu tersebut layaknya manusia. Lengkap dengan karakter-karakternya yang kompleks, seperti penyayang, ambisius, setia kawan hingga perilaku-perilaku konyol. Hebatnya penulisnya mampu menghubungkan karakter-karakter yang berbeda dalam novel ini berdasarkan jenis spesies burung hantu yang beragam.

Selain itu, meskipun buku ini menceritakan tentang dunia imanjiner dengan mengusung cerita burung hantu layaknya manusia yang mampu berbicara, berpikir, dan bermimpi. Namun di luar hal tersebut, merupakan percikan ilmu pengetahuan dan sejarah burung hantu yang ingin ditebar oleh penulisnya.

Hal ini tidak mengherankan, mengingat Katryn Lasky, penulisnya, merupakan seorang penggemar burung hantu. Bahkan dalam menulis novel ini ia secara khusus melakukan penelitian tentang perilaku burung tersebut, seperti apa yang mereka makan, bagaimana terbang, dan bagaimana membuat sarang.

Membaca buku pertama dari rangkaian seri Guardians of Ga’hoole ini, mengingatkan kita pada karya Richard Bach, Jonathan Livingston Seagull, tentang burung camar yang “menembus awan” tahun 1970 yang telah terjual lebih dari tujuh juta eksemplar di seluruh dunia, ihwal orisinalitas ceritanya. Sebuah capaian yang tidak mustahil diraih buku ini.
Terlepas dari semua rangkaian cerita di dalamnya, kehadiran buku ini seakan memiliki pesan kuat. Bahwa kelestarian alam terutama hutan harus senantiasa dijaga, mengingat begitu banyak fungsi dan manfaatnya yang bukan sekedar untuk manusia, namun juga makhluk-makhluk lain yang habitatnya sangat bergantung kepadanya.

Dengan demikian buku ini bukan sekedar mengajak kita bertamasya ke dunia satwa, namun juga secara implisit memiliki pesan moril yang cukup tegas, bahwa keserakahan pada akhirnya hanya membawa kehancuran. Seperti keserakahan yang dihembuskan dari St. Aegolius.

Judul Buku: Guardians of Ga’hoole: The Capture
Penulis: Kathryn Lasky
Penerbit: Kubika
Cetakan: Pertama, 2010
Tebal: 338 Halaman

Peresensi:
Noval Maliki, Penggiat Demi Buku Institute, Tinggal di Yogyakarta

Minggu, 24 Oktober 2010

Burung Kebijaksanaan

the Capture: Guardians of Ga’hoole #1
BURUNG hantu (owl) memiliki kehidupan yang unik. Ia tidak saja memiliki bentuk wajah yang berbeda dengan jenis burung biasa, tapi juga dalam berperilaku. Burung satu ini tergolong spesies burung nokturnal (beraktivitas di malam hari), pemalu bahkan susah ditemukan.

Ia juga dianugerahi katajaman mata sehingga dapat melihat dan mengintai mangsa dari jarak yang sangat jauh. Kesan burung hantu yang hidup di malam hari itulah yang membuat spesies burung ini disebut-sebut sebagai jenis binatang yang menyeramkan: sebagai lambang burung yang jahat.

Tapi kesan itu tidak sepenuhnya benar. Dalam kepercayaan orang Yunani, burung ini justru dilambangkan sebagai burung kebijaksanaan dan memiliki sifat menolong.

Setidaknya, sisi kebijaksanaan dan penolong dari burung hantu itulah yang diwakili tokoh Soren (burung hantu Barn), Gylfie (burung hantu peri), Twilight (burung hantu kelabu besar), dan Digger (burung hantu Liang) yang siap menjadi burung-burung hantu kesatria untuk memanggul tugas mulia–mengikuti jejak kesatria burung hantu di zaman Glaux (seperti dikisahkan dalam legenda Ga`Hoole) yang terbang di malam hari untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.

Motivasi Soren untuk memanggul tugas mulia itu, tak lepas dari kemalangan hidup yang pernah ia jalani. Saat baru berumur tiga minggu dan belum bisa terbang, ia terjatuh dari sangkar. Ia pun mengalami nasib nahas. Sebab tidak lama kemudian, patroli St. Aegolius menculiknya dan ia dibawa ke sebuah jurang atau tebing–tempat ribuan anak-anak burung hantu diculik.

Di tempat yang disebut sebagai “sekolah untuk burung hantu yatim piatu” itu, Soren dan ribuan anak-anak burung hantu dididik dengan keras: tak diperkenankan untuk bertanya, dipaksa untuk bekerja, bahkan berbaris dan tidur di bawah sinar rembulan agar mengalami pembingungan.

Tak mustahil, jika efek dari peraturan itu menjadikan burung-burung hantu kecil itu bermata hampa, serupa mayat berjalan. Tapi Soren yang kemudian bersahabat dengan Gylfie tahu tipu muslihat mereka. Maka, Soren dan Gylfie yang cerdas berusaha menahan kantuk agar tak tidur di bawah sinar rembulan. Untuk bertahan dari tidur, Soren bercerita–pada Gylfie-tentang legenda Ga`Hoole sampai bulan menghilang. Akibatnya, keduanya “tidak mengalami pembingungan”. Tetapi, siksaan itu belum seberapa karena pada saat tertentu, sayap dan bulu anak-anak burung hantu itu digunduli agar tidak bisa terbang.

Setelah melakukan pengamatan dan tahu apa yang terjadi di St. Anggie, keduanya sadar: St. Anggie dibangun untuk misi rahasia dengan tujuan jahat. Patroli St. Aegolius menculik—anak-anak burung hantu untuk tujuan menguasai seluruh kerajaan burung hantu. Keduanya sadar segala sesuatu di St. Anggie terbalik. Maka, Soren dan Gylfie berjuang untuk tidak bingung dan tetap berdiri tegak: selanjutnya, berusaha lolos dari sergapan mereka.

Beruntung, keduanya kemudian bertemu dengan Hortense –burung hantu bintik–yang juga berjuang menyelamatkan telur-telur burung hantu dari hutan kerajaan Ambala yang dicuri patroli St. Aegolius. Tapi belum sempat Soren-Gylfie berhasil lolos, Hortense terbunuh akibat ketahuan menyelamatkan telur burung hantu. (S-2)

Lampung Post, Kamis, 21 Oktober 2010

Judul buku: The Capture: Guardians of Ga`Hoole #1
Penulis: Kathryn Lasky
Penerjemah: T. Dewi Wulansari
Penerbit: Kubika, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2010
Tebal: 338 halaman

Minggu, 10 Oktober 2010

SPIRIT DARI SEBUAH LEGENDA GA'HOOLE

BURUNG hantu (owl) memiliki kehidupan yang unik. Ia tidak saja memiliki bentuk wajah yang berbeda dengan jenis burung biasa, tapi juga dalam berperilaku. Burung satu ini tergolong spesies burung nokturnal (beraktivitas di malam hari), pemalu bahkan susah ditemukan. Ia juga dianugerahi katajaman mata sehingga dapat melihat dan mengintai mangsa dari jarak yang sangat jauh. Kesan burung hantu yang hidup di malam hari itulah yang membuat spesies burung ini disebut-sebut sebagai jenis binatang yang menyeramkan: sebagai lambang burung yang jahat.

Tapi kesan itu tidak sepenuhnya benar. Dalam kepercayaan orang Yunani, burung ini justru dilambangkan sebagai burung kebijaksanaan dan memiliki sifat menolong. Setidaknya, sisi kebijaksanaan dan penolong dari burung hantu itulah yang diwakili tokoh Soren (burung hantu Barn), Gylfie (burung hantu peri), Twilight (burung hantu kelabu besar) dan Digger (burung hantu Liang) yang siap menjadi burung-burung hantu ksatria untuk memanggul tugas mulia --mengikuti jejak ksatria burung hantu di zaman Glaux (seperti dikisahkan dalam legenda Ga`Hoole) yang terbang di malam hari untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.

Motivasi Soren untuk memanggul tugas mulia itu, tak lepas dari kemalangan hidup yang pernah ia jalani. Saat baru berumur tiga minggu dan belum bisa terbang, ia terjatuh dari sangkar. Ia pun mengalami nasib naas. Sebab tidak lama kemudian, patroli St. Aegolius menculiknya, dan ia dibawa ke sebuah jurang atau tebing --tempat ribuan anak-anak burung hantu diculik. Di tempat yang disebut sebagai "sekolah untuk burung hantu yatim piatu" itu, Soren dan ribuan anak-anak burung hantu dididik dengan keras: tak diperkenankan untuk bertanya, dipaksa untuk bekerja, bahkan berbaris dan tidur di bawah sinar rembulan agar mengalami pembingungan.

Tak mustahil, jika efek dari peraturan itu menjadikan burung-burung hantu kecil itu bermata hampa, serupa mayat berjalan. Tapi Soren yang kemudian bersahabat dengan Gylfie tahu tipu muslihat mereka. Maka, Soren dan Gylfie yang cerdas berusaha menahan kantuk agar tak tidur di bawah sinar rembulan. Untuk bertahan dari tidur, Soren bercerita --pada Gylfie- tentang legenda Ga`Hoole sampai bulan menghilang. Akibatnya, keduanya "tidak mengalami pembingungan". Tetapi, siksaan itu belum seberapa karena pada saat tertentu, sayap dan bulu anak-anak burung hantu itu digunduli agar tidak bisa terbang.

Setelah melakukan pengamatan dan tahu apa yang terjadi di St. Anggie, keduanya sadar: St. Anggie dibangun untuk misi rahasia dengan tujuan jahat. Patroli St Aegolius menculik -anakanak burung hantu untuk tujuan menguasai seluruh kerajaan burung hantu. Keduanya sadar segala sesuatu di St Anggie terbalik. Maka, Soren dan Gylfie berjuang untuk tidak bingung dan tetap berdiri tegak: selanjutnya, berusaha lolos dari sergapan mereka. Beruntung, keduanya kemudian bertemu dengan Hortense --burung hantu bintik-- yang juga berjuang menyelamatkan telur-telur burung hantu dari hutan kerajaan Ambala yang dicuri Patroli St Aegolius. Tapi belum sempat Soren-Gylfie berhasil lolos, Hortense terbunuh akibat ketahuan menyelamatkan telur burung hantu.

Soren dan Gylfie yang cerdik kemudian meminta bantuan Grimble (burung hantu boreal). Grimble (yang ditahan oleh patroli St Aegolius sebagai sandra dengan jaminan tak akan diganggu keluarganya) pun siap membantu dan bahkan mengajari Soren dan Gylfie cara terbang. Bantuan dan pertolongan Grimble ternyata tak sia-sia. Soren dan Gylfie akhirnya bisa terbang dan lepas dari sekapan tersebut, meski Grimble harus menebus dengan nyawanya --karena dibunuh Skench (burung hantu bertanduk yang menjadi jenderal Ablah St. Aegolius).

Tetapi setelah Soren dan Gylfie berhasil kabur dari St Aegolius, bukan berarti semua selesai. Keduanya masih harus mencari keluarganya. Pencarian keduanya itulah yang menjadikan kedua burung hantu itu kemudian berpetualang. Apalagi, setelah bebas keduanya bertemu Twilight dan Digger. Pelarian dari St Aegolius juga menjadi titik awal untuk tugas mulia selanjutnya yang lebih berat lagi: melawan kejahatan patroli St Aegolius di bawah kekuasaan Skench.

Meski novel fantasi ini tergolong kisah fabel: dengan tokoh-tokoh burung hantu (juga dua burung elang dan seekor ular buta), tetapi buku ini ditulis dengan serius dan bahkan ditunjang penelitian yang mendalam. Semula, memang pengarang melakukan penelitian burung hantu dengan mendalami perilaku mereka: apa yang mereka makan, bagaimana mereka terbang, membuat sarang dan sebagainya untuk menulis buku non-fiksi. Tetapi saat pengarang yang kini tinggal di Cambridge (Missachusetts) ini hendak menulis buku non-fiksi, ia sadar bahwa buku yang akan dia tulis itu tidaklah mudah. Akhirnya, ia menulis kehidupan burung hantu dalam novel (fantasi).

Meski demikian, pengarang bisa menghidupkan tokoh-tokoh burung hantu dalam novel ini dengan gemilang. Apalagi novel ini dilengkapi dengan sekelumit sejarah, perilaku, karakter dan jenis-jenis burung hantu. Alhasil, novel ini pun menjadi "sebuah bacaan yang memikat". Kelebihan lain, Kathryn Lasky --yang telah menulis banyak buku, fiksi dan non-fiksi di antaranya: Interupted Journey: Saving Endangered Sea Turtles dan The Night Journey: Beyond the Burning Time dan mendapat sejumlah penghargaan-- mampu menulis kisah tentang kehidupan burung hantu dengan menawan, memikat meski ditulis dengan "bahasa yang sederhana".

Tapi kesan sederhana itu tak sepenuhnya menjadikan novel ini tidak berbobot. Karena Lasky mampu mengubah kehidupan burung hantu menjadi cerita yang unik, menarik dan menawan. Juga, ia bisa bercerita dengan lancar. Setiap jeda dari penggalan kisah dilingkupi dengan suspense sehingga meninggalkan kesan penasaran di benak pembaca. Rasanya, tidak dapat berhenti membaca jika belum sampai pada akhir halaman. Semua kelebihan itulah, yang mengantarkan novel ini kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul Legenda of The Guardians: The Owl of Ga`Hoole.

*) N. Mursidi, cerpenis dan owner toko buku online www.etalasebuku.com

Sumber: Koran Indo Pos dan Jawa Pos, Minggu 10 Oktober 2010 *