Kamis, 16 Desember 2010

Dunia Faery yang memesona dan penuh intrik

Sumber: Noviane Asmara

Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift. That’s why it is called the Present.
- quote dari Kungfu Panda Movie -

Kalimat bijak di atas sering kita dengar. Dan memang seperti itulah kebenarannya. Kita tidak pernah tahu seperti apa masa depan kita, karena itu sebuah misteri. Kita pun tidak boleh menyesali apa yang telah lalu, biarkan itu berlalu dan menjadi sejarah untuk kita cermati dan pelajari. Tapi kita harus bersyukur atas apa yang kita terima dan terjadi hari ini terhadap kita, karena itu adalah berkah.

Lalu, ada apa dengan masa lalu seorang Meghan?

MEGHAN Chase. Seorang gadis berusia enam belas tahun. Tepatnya akan segera berulang tahun ke enam belas. Di hari ulang tahunnya itulah semuanya berubah. Ia tidak pernah membayangkan bahwa masa lalunya itu akan menyingkap semua misteri tentang keluarganya. Dirinya―tepatnya.

Penculikan Ethan, adik tirinya, membawa ia menjelajahi negeri Nevernever. Ditemani oleh sahabat karibnya, Robbie, yang juga tidak pernah Meghan kenali secara baik, ia berkelana menembus dunia Faeryland. Dalam perjalanannya untuk menemukan Ethan, ia dihadapkan pada kenyataan yang tidak pernah ia sangka dalam hidupnya. Ia tidak pernah tahu bahwa hal-hal “aneh” yang kerap menimpa dirinya ternyata berhubungan dengan semua masa lalunya, tepatnya masa lalu sang Ibu.

Di tengah pencarian adiknya, Meghan bertemu dengan beberapa tokoh-tokoh yang selama ini ia yakini hanya ada dalam cerita A Midsummer Night’s Dream. Kisah yang hanya pernah ia dengar dan tidak pernah ia menduga kalau ternyata tokoh-tokoh itu nyata. Meghan pun sempat terpesona dengan salah satu sosok tampan tapi dingin dan misterius―Pengeran Ash.

Usaha pencarian adiknya yang ia rasakan hanya beberapa hari saja di Nevernever, ternyata memakan waktu lebih dari tiga bulan untuk hitungan waktu bumi, tempat Ibu dan juga Luke, ayah tirinya beserta polisi, detektif dan seluruh warga kota mencari dirinya yang tiba-tiba menghilang.

Aku tak bisa pergi sekarang, . Aku baru saja pulang! Aku ingin menjadi normal; aku ingin pergi ke sekolah, belajar menyetir dan pergi ke pesta prom tahun depan. Aku ingin melupakan kalau faery itu ada.
Ada konsekuensi besar yang harus Meghan terima bila ia menginginkan Ethan kembali. Meghan harus bersedia menukar kehidupannya. Menukar kehidupan lamanya dengan kehidupan baru dan menjadi “baru”.
Akankah Meghan rela melakukannya?

Buku Iron King yang merupakan Trilogi dari The Iron Fey ini, menyuguhkan fiksi fantasi tentang faery yang begitu kompleks. Bukan hanya jalan ceritanya yang kompleks, tapi juga para makhluk yang berada di dalamnya. Kita tidak hanya akan tahu tentang faery saja, tapi kita akan diajak mendalami dunia lain dari faery. Di mana masih terdapat banyak makhluk lainnya yang mempunyai keanekaragaman bentuk, sifat dan kebiasaan. Kagawa berhasil membuat saya berdecak kagum.

Pesan Moral yang ingin Kagawa sampaikan lewat cerita ini pun terbaca dengan jelas. Rasa memiliki diantara sebuah keluarga adalah segalanya. Apapun akan dilakukan oleh orangtua untuk membela anaknya dan sebaliknya, walaupun dengan cara yang salah, misalnya dengan membuat cerita bohong akan masa lalu. Dan juga apapun akan dilakukan oleh seorang kakak untuk membela adiknya.

Julie Kagawa lahir di Sacramento, California. .Saat berusia sembilan tahun ia dan keluarganya pindah ke Hawaii. Dan ia menghabiskan banyak waktunya di laut.

Ia pernah membaca novel yang ia sembunyikan di dalam buku pelajaran matematikanya saat kelas sedang berlansung. Tidak hanya kecintaan akan membaca novel saja, ia pun suka menulis.

Julie pernah bekerja di beberapa toko buku selama bertahun-tahun untuk membiayai hidupnya. Ia juga pernah bekerja sebagai dogtrainer professional selama beberapa tahun. Ketika buku pertamanya laku terjual, ia berhenti bekerja sebagai Dogtrainer dan memutuskan untuk menulis full time.

Julie sekarang tinggal di Louisville, Kentucky bersama suami dan dua ekor kucing peliharaannya yang menjengkelkan.

Sumber: Noviane Asmara

Berguru Pada Burung Hantu

The Journey: Guardians of Ga’hoole #2Oleh Hilya Liya

Kekuatan sebuah cerita, pada dasarnya tidaklah sekedar terletak pada narasi kisah itu sendiri. Namun juga pada substansi atau makna yang hendak di tawarkan dari penulis cerita kepada pembaca, dengan buku sebagai medianya.

Dengan demikian keberadaan sebuah buku mesti memiliki pesan-pesan yang hendak disampaikan oleh penulisnya, baik secara terang benderang maupun tersamar. Sehingga menangkap pesan dalam sebuah buku sangat ditentukan oleh kemampuan abstraksi pembaca dalam mengunyah sebuah cerita.

Hal demikian terdapat pula dalam novel berjudul lengkap Guardians of Ga’hoole: The Journey ini. Sekuel dari novel pertamanya yang berhasil merebut hati pembaca dunia sehingga mendapat kehormatan untuk diangkat ke layar lebar.

Melanjutkan kisah kawanan burung hantu yang bermaksud hendak mencegah kehancuran dunia mereka, yang terancam oleh keberadaan sebuah kerajaan bernama St. Aegolius.

Diceritakan setelah Soren, Gylfie, Twilight dan Digger menemukan Mrs. Plithiver, kawanan burung hantu muda ini kemudian memutuskan untuk melanjutkan misi semula mereka, menemukan dan mengabdi pada pohon Ga’Hoole agung sekaligus untuk mengabarkan keberadaan St. Aegolius yang mengancam.

Sayangnya misi tersebut tak seindah yang dibayangkan. Selain mendapat ancaman dari patroli pasukan patroli St. Aegolius, di tengah perjalanan mereka juga dihadang kawanan burung gagak, yang menjadi musuh abadi burung hantu dan mendapat serangan yang berbahaya. Beruntung berkat trik yang dilakukan Mrs. P, mereka akhirnya lolos dari bahaya maut tersebut.

Pepatah yang mengatakan bahwa musuh terberat adalah diri kita sendiri, nampaknya benar-benar dirasakan Soren dan kawan-kawan. Mengingat ujian terbesar yang sesungguhnya dan nyaris menggagalkan misi suci tersebut adalah motivasi diri mereka sendiri.

Hal ini terbukti ketika mereka singgah di Danau Cermin untuk melepas lelah. Keadaan pulau yang gemah ripah loh jinawi, dengan tersedianya makanan yang melimpah ruah dan tempat tinggal yang nyaman, membuat mereka lengah dan lupa akan misi utama yang mulia. Sekali lagi, seekor ular buta pembantu keluarga bernama Mrs. Plithiver-lah yang menjadi pahlawan dan mengingatkan kembali kepada tujuan mereka semula.

Setelah melewati pergulatan batin yang keras dan perdebatan yang sengit, akhirnya kawanan ini berhasil menyingkirkan ego masing-masing dan memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan demi menyelamatkan dunia burung hantu.

Badai angin dan salju yang ganas harus dilalui hingga akhirnya berhasil menemukan pohon yang dimaksud. Bahkan, mereka berhasil bertatap muka dengan pemimpin pohon Ga’Hoole, Boron raja Hoole dan sang istri Barran yang menjadi ratunya, keduanya berjenis burung hantu salju.

Hoole membuat mereka serasa menemukan kehidupan baru, terutama bagi Soren dan Gylfie yang pernah tinggal di St. Aegolius. Mengingat meski menerapkan disiplin yang tinggi, namun bertanya merupakan hal yang lumrah diajukan disini. Sedangkan di St. Aegolius hal itu merupakan sebuah larangan besar.

Selain itu, jika di St.Aegolius perpustakaan dan aktifitas membaca termasuk larangan lainnya, sebaliknya, Hoole justru mewajibkan para peserta didiknya untuk mampu membaca dan belajar di perpustakaan. Maka dengan semangat yang membara, keempatnya menggembleng diri di pohon Ga’Hoole agung.

Buku kedua dari dua belas jilid ini, mengisahkan tentang perjalanan dan perjuangan Soren, Gylfie, Twilight dan Digger untuk mengejar cita-cita yang mereka idamkan. Petualangan di dalamnya, selain mampu menyihir pembaca karena liku-liku ceritanya, juga akan menemukan kekayaan makna yang jika digali lebih dalam terkandung nilai filosofi yang luar biasa.

Misalnya bagaimana penulis mendeskripsikan pergulatan batin Soren dan kawan-kawan ketika harus meninggalkan Pulau Cermin yang menggoda, menjadi catatan tersendiri betapa meraih sebuah cita-cita tidaklah semudah membalikan telapak tangan.

Bagi para pecinta cerita petualangan, keberadaan buku ini merupakan sebuah anugerah tersendiri. Tawaran cerita yang disuguhkan dengan mengisahkan dunia burung hantu, membuat buku ini istimewa karena mampu memperkaya gagasan pembaca.

Kemasan ceritanya yang ringan dan mudah dicerna, tidak membuat alur di dalamnya terasa hambar. Sebaliknya, karakter dan kejutan-kejutan kecil yang muncul membuat siapa pun yang membaca buku ini di jilid pertama, maka dipastikan ia akan membaca tuntas hingga jilid terakhir. Meskipun harus sedikit bersabar untuk menanti lanjutannya.

Buku ini dapat dikatakan sebagai sebuah candu dari Kisah Burung Hantu yang justru memiliki implikasi positif bagi pembacanya. Bagaimana nilai-nilai setia kawan, berani dan kukuh mengejar apa yang harus dicapai, hal-hal yang terdapat di dalamnya.

Sehingga dengan demikian, bagi Katryn Lasky, penulisnya, keberadaan buku ini diharapkan mampu menjadi inspirasi positif bagi para pembacanya, dengan mengangkat kearifan kawanan burung hantu sebagai obyek cerita.

Judul Buku: Guardians of Ga’hoole: The Journey

Penulis: Kathryn Lasky

Penerbit: Kubika

Cetakan: Pertama, September 2010

Tebal: 301 Halaman

Sumber: Hilya Liya

Sepercik Asa dalam Kepungan Ternoda

Timur dan Barat, nampaknya bukan sekedar merujuk pada perbedaan geografis, demografis, kultur, maupun paradigma berpikir, namun juga berpengaruh dan merembet terhadap pembentukan cerita yang selama ini dianggap wilayah supra rasional.

Betapa tidak? Jika di Timur, cerita mengenai makhluk dari dunia supernatural selama ini dijejali dengan hal-hal yang sifatnya immaterial-spiritual, seperti hantu, dedemit maupun spesimen lainnya yang mampu menembus dinding atau masuk ke dalam botol, tidak bisa dilihat dan disentuh oleh indera sembarang manusia.

Sedangkan pemahaman Barat terhadap kosmologi ini sangat kentara terpengaruh empirisme. Hantu dalam konteks masyarakat Barat pada umumnya muncul dalam wujud fisik dan nyata, mampu disentuh dan dibunuh, seperti vampir, manusia serigala dan zombie. Maka tidak mengherankan jika cerita-cerita bergenre ini dijejali sosok-sosok tersebut yang berperang melawan manusia.

Contoh yang paling sederhana adalah zombie. Dipahami sebagai mayat berjalan, yang telah terinfeksi sejenis virus yang diperoleh dari zombie yang sebelumnya pernah menggigitnya. Dalam kasus zombie, orang yang terkena dianggap telah mati, lalu entitas apa yang membuat sosoknya masih bisa “hidup“ dan berjalan? Entahlah. Di Timur, terutama Indonesia, fenomena orang hilang kesadaran dikenal dengan istilah kesurupan, tetapi itupun sifatnya hanya temporer.

Keberadaan zombie itu pula yang menjadi ide utama buku berjudul The Forest of Hands and Teeth ini, mengisahkan kehidupan di sebuah perkampungan yang terisolir dikelilingi kawanan zombie yang mengancam dan mengincar keselamatan penduduknya. Termasuk seorang gadis bernama Mary.

Dikisahkan, Mary merupakan sosok perempuan yang beranjak dewasa. Ia bukan hanya “terjebak” dalam sebuah desa yang terisolir dikelilingi pagar yang melindunginya dari “Ternoda”, istilah bagi zombie dalam buku ini. Namun, ia juga terjerat asmara segi tiga yang sangat pelik. Di sisi lain, psikologinya nyaris teracuni pesimisme yang dihembuskan para Biarawati dan aparat desa ihwal keberadaan Laut, sebuah dunia impian yang diyakini ia dan almarhumah ibunya.

Sebagai pemangku kekuasaan tertinggi di Desa, para Biarawati memberlakukan aturan yang sangat ketat, disiplin yang tinggi dan hukuman yang berat bagi siapa pun yang melanggarnya. Namun semuanya diyakini memiliki kemaslahatan bagi seluruh komunitas desa. Otoritasnya sangat mutlak hingga menerabas wilayah-wilayah privat warganya, mulai dari membaca buku hingga menikah. Hal inilah yang mulai menimbulkan masalah bagi Mary.

Betapa tidak? Ketua biarawati bernama Suster Tabitha, menyuruhnya untuk menikah dengan lelaki bernama Harry, padahal Mary telah jatuh cinta dan menjalin asmara dengan Travis yang merupakan adik kandung Harry. Terlebih kakak lelaki satu-satunya Jed mendukung keputusan sang biarawati tersebut, dan celakanya Cash sahabat Mary sejak kecil mencintai Harry, sehingga hal ini menimbulkan api cemburu di dadanya.

Masalah sepertinya tidak bosan mengejar Mary, di tengah kemelut cinta yang melanda, ancaman yang sesungguhnya datang dari kawanan Ternoda yang mulai mampu melakukan penerobosan terhadap pagar dan menara pengawas. Keberadaan Ternoda sendiri pada awalnya dapat diatasi dengan pagar tinggi yang menjadi pembatas antara desa dengan Belantara Tangan dan Gigi, tempat para Ternoda tinggal.

Terlebih, di Desa terdapat para Pengawas, satuan pengaman yang sering melakukan patroli. Nahas, ketenangan itu pada akhirnya terusik dengan jebolnya pagar desa sehingga Ternoda secara leluasa melakukan agresi. Pilihan bagi yang terkena gigitan ternoda hanyalah dua: terinfeksi sehingga menjadi zombie atau mati terkoyak menjadi santapan mereka.

Maka bencana pun terjadi, kalah jumlah membuat penduduk Desa terbantai habis. Hanya menyisakan Mary, Jed, Beth, Harry, Travis, Cash serta si kecil Yakob. Mereka harus melakukan perjalanan panjang untuk menyelamatkan diri dan memelihara sepercik asa dari kepungan Ternoda, sekaligus menemukan Laut, sebuah tanjung harapan yang pada awalnya keberadaannya hanya diyakini Mary.

Membaca buku setebal tiga ratus sembilan puluh dua halaman ini, membuat kita merasa terlibat di dalam cerita yang dibangun oleh Carrie Ryan tersebut. Ketegangan yang dirasakan oleh para tokohnya dikejar Ternoda, akan dapat dirasakan oleh adrenalin pembaca mengingat cara penuturannya menggunakan penuturan sudut pandang Mary (aku). Sehingga pembaca seolah berada pada posisi yang sama dengan tokoh “aku”.

Meski demikian, buku ini bukan melulu menceritakan tentang sekelompok orang yang diburu oleh Ternoda, melalui para tokoh di dalamnya kita akan temukan kisah cinta, perjuangan dalam mempertahankan hidup, bagaimana memelihara asa serta optimisme seorang gadis yang bukan hanya berhadapan dengan lingkungan sosialnya yang kolot, ancaman kematian, namun juga pergulatan batin yang keras.

Tidak mengherankan jika dikemudian hari, cerita dalam buku ini mendapat kehormatan diangkat ke layar lebar menjadi sebuah film. Sungguh merupakan sebuah keberuntungan bagi anda yang membacanya terlebih dahulu dalam buku ini. selamat membaca dan berpetualang di dunia Mary!

Judul Buku: The Forest of Hands and Teeth

Penulis: Carrie Ryan

Penerbit: Kubika

Cetakan: Pertama, 2010

Tebal: 392 Halaman 



lihat juga di http://www.kompasiana.com/novalmaliki j

Jumat, 10 Desember 2010

The Iron King: Let's Go To NeverNever

Judul : The Iron King
Penulis : Julie Kagawa
Penerjemah : Angelic Zaizai
Penyunting : Team Kubika
Korektor : Noviane Asmara
Penerbit : Kubika
Cetakan : I – Desember 2010
Tebal : 460 Halaman

Sejak kecil Meghan Chase normal, well, tidak benar-benar normal sih. Kadang-kadang ia bisa melihat bayangan yang tidak dilihat oleh orang lain. Namun itu tidak seberapa dibanding serentetan kejadian yang terjadi saat usianya hampir menginjak enam belas tahun.

Kejadian pertama ketika ia hendak memberi tambahan pelajaran komputer kepada Scott Waldron, cowok paling populer di sekolahnya. Di lab, tiba-tiba komputer-komputer bertingkah aneh dan mempermalukannya. Dia juga melihat sesosok makhluk aneh di monitor komputernya, sosok yang hanya ada dalam imajinasi, mimpi, dan dunia dongeng.

Kejadian kedua adalah anjing Meghan yang bernama Beau. Anjing paling manis dan penurut sedunia itu tiba-tiba menyerang Ethan, adik Meghan yang masih kecil. Beau pun harus disingkirkan oleh Luke, ayah tirinya.

Belum pulih dari keheranannya mengalami kejadian-kejadian aneh berturut-turut, Meghan mendapati bahwa adiknya, Ethan berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda.

Akhirnya, Meghan mempelajari sebuah kenyataan, bahwa ada sebuah dunia yang terhubung dengan dunia yang sekarang didiaminya. Dunia tempat semua makhluk dalam dongeng hidup. Dunia tempat semua impian dan imajinasi manusia mewujud. Di dunia itu lah Ethan diculik dan Ethan yang berada di rumahnya itu ternyata bukan Ethan yang sesungguhnya.

Ketidaktahuan adalah anugrah terbesar……

Begitu yang dikatakan Robbie, sahabat dekat Meghan yang ternyata adalah makhluk dari Faeryland atau Nevernever. Rob menawari Meghan 2 pilihan, minum anggur-kabut, melupakan semuanya, dan menjalani kehidupannya seperti biasa, atau mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, memasuki dunia dongeng untuk menyelamatkan Ethan, dan menempuh perjalanan berbahaya yang mungkin akan membuatnya terbunuh. Meghan mengambil yang kedua.

Nevernever terbagi menjadi dua bagian. Setengahnya dikuasai musim panas, dengan Raja Musim Panas sebagai raja yang berdiam di Istana Musim Panas. Setengahnya lagi dikuasai oleh Ratu Musim Dingin- daerah kekuasaannya bernama Tir Na Nog- yang berdiam di Istana Musim Dingin. Saat ini, Raja Musim Panas dan Ratu Musim Dingin tidak lagi berperang, mereka mengadakan gencatan senjata.

Banyak bahaya yang mengadang Meghan di Nevernever. Makhluk-makhluk di sana kebanyakan menganggap manusia adalah cemilan atau makanannya. Di Nevernever, Meghan terpaksa meminta bantuan kepada caet sith, makhluk legenda berwujud kucing yang bernama Grim untuk menemukan Istana Raja Musim Panas dan menyelamatkan Ethan. Untuk itu ia terikat perjanjian dengan Grim.

Perjalanan Meghan mencari Ethan ternyata tidak mulus. Banyak sekali pihak yang menginginkan dirinya, demi kepentingannya masing-masing. Meghan melanjutkan perjalanannya ditemani Robbie, sahabat lamanya, Grim, dan Ash, sang pangeran dari Istana Musim Dingin. Banyak hal mengerikan terungkap seiring dengan semakin dekatnya dia ke tujuan, musuh yang dihadapinya ternyata di luar dugaan dan kehancuran Nevernever sudah di ambang mata. Mampukah Meghan, si darah-campuran menyelamatkan Ethan dan Nevernever dari kehancuran? Nampaknya kita harus membaca sampai halaman terakhir untuk mendapatkan jawabannya.

Membaca buku ini seperti membaca kisah dongeng untuk orang dewasa. Sangat indah dan seru sampai lembar terakhir. Sebagai pecinta monster, saya sangat puas dengan keragaman monster yang bertebaran di halaman-halaman buku ini, beberapa sangat akrab, beberapa kurang dikenal, namun berkat kegemaran saya bermain game, saya jadi tahu asal makhluk-makhluk tersebut ^^

Saya menyukai ide dasar cerita ini, mengingatkan saya pada sebuah novel yang kurang lebih idenya sama tapi penggarapannya jauh lebih vulgar hehehe…

Petualangan seru, makhluk mitologi yang beragam, kisah cinta antara terang dan gelap, apa lagi yang bisa diharapkan dari sebuah novel YA? Semua unsur itu terangkum indah dalam Iron King. Ngga akan nyesel deh ikut berpetualang bareng Meghan di Nevernever.

Sumber: Silvero

Minggu, 05 Desember 2010

Guardians Of Ga'hoole #1 : The Capture

the Capture: Guardians of Ga’hoole #1Judul : Guardians of Ga'hoole #1 : The Capture
Penulis : Kathyrn Lasky
Penerjemah : T. Dewi Wulansari
Penerbit : Kubika
Cetakan : 2010
Tebal : 338 hlm

Burung hantu identik dengan hal-hal yang menyeramkan, mungkin karena jenis burung ini hanya beraktifitas di malam hari dengan suaranya yang menyeramkan bagaikan hantu tak heran burung ini muncul di kisah-kisah horror, penyihir, atau kisah-kisah seram lainnya. Beberapa film atau drama horror tak jarang menggunakan burung hantu dan memperdengarkan suaranya agar menimbulkan kesan mistis dan seram pada adegannya.

Kita tentu masih ingat bagaimana sebuah acara TV “The Master” menampilkan sosok magician fakir Master Limbad yang selalu tampil dengan tata panggung dan rias wajah yang seram bersama burung hantunya. Namun tak jarang sosok burung hantu juga muncul dalam bentuk yang lebih bersahabat seperti dalam Buku dan film Harry Potter yang menghadirkan burung hantu sebagai burung pengantar surat bagi para murid-murid penyihir Howgart

Demikian pula dalam novel fantasi Guardians of Ga’Hoole, sebuah kisah fabel burung hantu karya Kathryn Lasky yang sama sekali jauh dari kesan menyeramkan. Di novelnya ini alih-alih menampilkan sosok burung hantu yang seram Lansky mencoba menjadikan burung hantu sebagai burung yang cerdas, bijaksana, dan suka menolong. Apakah Lasky terlalu mengada-ngada? Tentu saja tidak karena ternyata menurut kepercayaan orang Yunani burung hantu itu melambangkan kebijaksanaan dan sifat penolong.

Buku ini merupakan seri pertama dari ke enambelas judul seri Guardians of Ga’Hoole. Di buku pertamanya ini dikisahkan seekor burung hantu Barn yang masih berusia tiga minggu bernama Soren. Saat kedua orang tuanya pergi berburu Soren terjatuh dari sarangnya. Soren tak bisa selain mengunggu pertolongan dari orang tuanya atau saudara-saudaranya. Malangnya ketika ia menunggu pertolongan tiba-tiba seekor burung hantu membawanya terbang ke sebuah tempat yang merupakan sebuah tebing yang tinggi, saat itu barulah ia sadar bahwa dirinya diculik.

Oleh burung hantu itu Soren dibawa ke sebuah tempat yang bernama St Aegolius, sekolah untuk burung hantu yatim piatu. Di tempat itu sudah terdapat ratusan anak-anak burung hantu yang diculik dan dididik dengan keras untuk sebuah tujuan tertentu. Mereka diharuskan patuh pada para gurunya, bekerja sesuai dengan yang diperintahkan dan harus mengikuti sesi pembingungan dimana anak-anak burung hantu harus berbaris dan tidur dibawah pancaran bulan purnama. Dengan demikian anak-anak burung hantu itu akan bertindak diluar kebiasaan burung hantu pada umumnya, lupa akan jati dirinya dan tidak memiliki keinginan untuk kabur dari St Aegolius.

Untungnya di tempat itu Soren bertemu dengan Gylfie, seekor burung hantu Peri yang cerdas, ia sadar bahwa semua anak-anak burung hantu yang tertidur di bawah pancaran sinar bulan purnama akan mengalami pembingungan. Selain itu mereka juga dibuat kehilangan jati diri mereka dengan menganti nama mereka dengan nomor. Dan yang lebih keji ada suatu masa dimana para anak-anak burung hantu itu diperintahkan untuk tidur terlentang dan sekelompok kelelawar datang untuk menghisap darah mereka dengan demikian anak-anak burung hantu itu akan kekurangan darah sehingga membuat bulu terbang mereka layu dan mati dengan demikian keinginan untuk kabur pun lenyap.

Karena Gylfie sudah berada di tempat itu lebih awal daripada Soren maka iapun memberitahukan semua itu pada Soren sehingga mereka berdua berusaha untuk mengamati apa yang sebenarnya sedang terjadi dan berusaha untuk menghindari sesi pembingungan setiap malamnya. Akhirnya diketahui bahwa tujuan para penculik itu adalah untuk menguasai kerajaan burung hantu. Maka sambil menunggu bulu-bulu terbang Soren berkembang dengan sempurna mereka merencanakan untuk kabur dari St. Aegolius.

Akhirnya dengan bantuan seekor burung hantu bernama Grimble yang juga terhindar dari proses pembingungan Soren dan Gylfie diajari cara terbang olehnya. Soren dan Gylfie akhirnya bisa terbang dan lolos dari kejaran para burung hantu St. Aegolius walau hal itu harus ditebus oleh nyawa Grimble yang tewas demi lolosnya Soren dan Gylfie.

Kaburnya Soren dan Gylfie bukan akhir dari segalanya, setelah berhasil kabur mereka berdua berusaha mencari keluarganya terlebih dahulu. Dalam pencariannya mereka bertemu dengan Twilight dan Digger, dua ekor burung hantu yang juga pelarian dari St. Aegolius. Hal ini menjadi titik awal dari petualangan mereka untuk menyelamatkan kerajaan burung hantu dari niat jahat burung hantu. St. Aegoluis.

Sebelum mereka sampai pada tujuan itu, Soren dan kawan-kawannya berniat untuk terbang menuju tempat dimana Pohon Ga’Hoole Agung tumbuh, tempat dimana hidup sebuah Legenda tentang para kasatria burung hantu yang akan terbang setiap malam untuk melaksanakan tugas-tugas mulia untuk menjaga kerajaan burung hantu dari niat jahat musuh-musuh mereka.

Sebagai kisah fantasi remaja, dengan bijak Kathyrn Lasky menyisipkan beberapa pelajaran moral bagi pembacanya, misalnya dalam hal toleransi, Lasky menghidupkan tokoh Mrs. P , seekor ular buta yang menjadi pelayan sarang burung hantu di keluarga Soren. Ini adalah hal yang tidak umum bagi keluarga burung hantu karena ular adalah makanan burung hantu. Namun walau Mrs. P adalah seekor ular dan menjadi pelayan sarang, Soren dan keluarga memperlakukan Mrs. P dengan hormat bahkan untuk menjaga perasaan Mrs. P Soren dan keluarganya pantang makan ular.

Lasky juga mengajak pembacanya untuk meneladani tokoh Gylfie yang sangat setia kawan, ketika masih terperangkap di St. Aegoluis Gylfie dengan sabar menunggu Soren tumbuh bulu-bulu terbangnya agar bisa melarikan diri bersama, padahal kalau mau Gylfie bisa lebih dulu terbang dan meninggalkan Soren. Lalu ada kisah pula bagaimana Grimble memberi motivasi dan keyakinan pada Soren dan Gylfie kalau mereka sesungguhnya sudah bisa terbang.

Selain beberapa pelajaran moral yang bisa diperoleh di novel ini, karena novel ini berasal dari riset serius Lasky yang tadinya hendak membuat buku non fiksi tentang burung hantu maka dalam novelnya ini ia menyajikan berbagai pengetahuan tentang burung hantu seperti jenis-jenis burung hantu seperti burung hantu Peri, burung hantu Barn, burung hantu hitam, dan yang unik adalah burung hantu Digger atau burung hantu penggali yang menggali lubang di tanah sebagai sarangnya. Selain itu pembaca juga akan diajak memahami karakter, perilaku dan perkembangan fisik burung hantu semenjak menetas, hingga ia cukup dewasa untuk bisa terbang dan berburu makanan.

Kisah yang seru, perilaku dan karakter burung hantu, dan nilai moral yang terdapat dalam kisah ini ini dipadu sedemikian rupa sehingga mampu memikat pembacanya untuk terus membaca petualangan para tokoh-tokohnya. Tak heran jika novel ini tampaknya diapresiasi dengan baik oleh pembacanya dan menjadi International Bestselling Series, hal ini pula yang membuat Lasky dengan tekun meneruskan seri burung hantu Ga’hoole ini hingga 16 seri yang terbit dua judul setiap tahunnya. Mungkin ini pula yang menjadi alasan Warner Bross untuk mengadaptasi kisah legenda Ga’ahoole ini dalam bentuk film yg berjudul “Legend of The Guardians : The Owl of Ga’hoole”. Film tersebut merupakan gabungan dari tiga judul awal seri ini yaitu The Capture, The Journey, dan The Rescue

Dengan banyaknya hal-hal positif yang bisa didapat pembaca dalam novel ini semoga pembaca fiksi fantasi tanah air juga khususnya para pembaca remaja kita dapat mengapresiasi novel berseri ini dengan baik sehingga penerbit Kubika dapat terus termotivasi untuk konsisten menerbitkan ke 16 judul dari seri Guardians of Ga’hoole ini.

Sumber: @htanzil, http://bukuygkubaca.blogspot.com/2010_11_01_archive.html

Minggu, 21 November 2010

The Rescue (Guardians of Ga’hoole #3)


Pengarang : Kathryn Lasky
Harga : Rp. -
Ukuran : 12 x 18,5 cm
ISBN : 978-602-96987-5-6
Halaman : 248 hal.
Penerjemah : T. Dewi Wulandari
Desain Cover : Warner Bros
Terbit : Desember 2010

Soren merasa sangat tidak adil, bahwa di saat dia bertemu dengan adiknya, ryb kesayangannya, Ezylryb, justru hilang. Jauh di dalam empedalnya, Soren merasa peristiwa misterius ini saling berkaitan.

Dalam upaya menyelamatkan Ezylryb, Soren dan teman-temannya melakukan pencarian. Pencarian yang membawanya berhadapan langsung dengan kekuatan yang lebih berbahaya dibandingkan penguasa St. Aggie – serta suatu kebenaran yang mengancam keutuhan kerajaan burung hantu.

Selasa, 09 November 2010

Cinta di Bawah Ancaman Zombie


Judul: The Forest of Hands and Teeth
Penulis: Carrie Ryan
Penerjemah: T. Dewi Wulandari
Penerbit: Kubika
Cetakan: I, Agustus 2010
Tebal: 392 hlm.

MARY tinggal di sebuah desa terpencil. Desa yang dikelilingi oleh pagar tinggi itu selalu diteror oleh kaum Ternoda, bangsa zombie. Mereka “hidup” di Belantara Tangan dan Gigi. Betapa tidak nyaman hidup di desa seperti itu. Oleh karena itu, ia selalu bermimpi untuk pergi, berjalan melewati pagar yang membungkus desa tersebut, dan menemukan laut yang selalu diceritakan ibunya ketika masih kecil.

Tetapi untuk meninggalkan desa berarti memasuki hutan, di mana hutan itu tidak dikonsekrasikan. Di dalamnya penuh dengan zombie yang kelaparan. Siapa saja yang digigit mereka, akan menjadi salah satu dari mereka. Ayah dan ibunya termasuk korban keganasan zombie tersebut.

Karena desa tersebut terisolasi, dan menjadi satu-satunya bangsa manusia yang selamat, maka dibuatlah sistem ritual untuk memastikan bahwa generasi berikutnya akan terus berlanjut. Aturan masyarakat desa ini sangatlah ketat, dan di atas segalanya. Mereka diperintah oleh para biarawati. Perintah agama menjadi alat kontrol setiap aspek kehidupan SimakBaca secara fonetik.

Masyarakat mereka adalah tentang ketertiban dan komitmen, serta aturan. Tetapi Mary bosan dengan itu. Ia memimpikan dunia yang lebih luas. Ia juga memimpikan cinta yang membebaskan. Mimpi Mary beralasan karena di desa ini diberlakukan sebuah komitmen dan kewajiban ketimbang cinta dan kebebasan dalam menjalin suatu pernikahan.

Mary sesungguhnya jatuh cinta pada Travis dan ingin menikah dengannya. Tapi ketua biarawati bernama Tabitha, menyuruhnya untuk menikah dengan Harry, kakak Travis. Sungguh, sebuah kondisi yang menyakitkan. Namun, kenyataan itu semakin memperbesar keinginan Mary untuk keluar dari desanya.

Suatu hari ada sebuah serangan dari kaum Ternoda yang berhasil masuk ke dalam desa. Mereka berhasil menghabisi semua penduduk desa, kecuali Mary, Jed (kakak Mary), Beth (istri Jed), Harry dan Travis (kakak-adik), Cash serta Yakob. Mereka terus lari ke dalam hutan, dan sesekali bersembunyi di sebuah rumah panggung.

Dalam pelarian itu satu persatu di antara mereka terkena Ternoda, sehingga dalam perjalanannya hanya menyisakan Mary seorang. Pertama kali yang terkena Ternoda adalah Beth. Dia terkena gigitan Ternoda meski hanya satu gigitan. Mary menyuruh Jed untuk membunuhnya, tapi Jed bimbang. Betapa tidak, dia dihadapkan kenyataan bahwa dia harus membunuh istrinya agar tidak menjadi kaum Ternoda. Tapi, siapa yang tega membunuh orang yang disayanginya. Perang berkecamuk dalam diri Jed, antara perasaan dan pikirannya.

Manakah jalan yang dipilih Jed, perasaan atau pikirannya? Bagaimana pula Mary bisa selamat dari kejaran Ternoda sementara yang lainnya tidak? Silakan anda membaca sendiri.

Belantara Tangan dan Gigi adalah sebuah novel yang ditulis dengan indah. Semenjak dari bab I, saya sudah menikmatinya. Kata-katanya cantik nan fasih. Kadang saya menahan napas pada saat mencari tahu apa yang akan terjadi di halaman berikutnya. Satu keluhan saya bahwa Mary begitu nyata sedang karakter lainnya hilang. Mungkin ini merupakan konsekuensi sebuah novel yang diceritakan oleh orang pertama dengan sudut pandang “aku”.

Dari segi bahasa, pesan, maupun gaya penyampaian penulis berhasil dialihbahasakan oleh peran penerjemah. Hanya saja saya menemukan ada ketidakkonsistenan dalam diksinya, yaitu penulisan kata ‘memperoleh’ dan ‘memeroleh’. Keduanya dipakai dalam novel ini.

Novel debutan Carry Ryan ini patut diperhitungkan. Di dalamnya terdapat pesan yang luar biasa, yaitu selalu berjuang menggapai mimpi, optimis, dan jangan pernah menyerah. Novel thriller yang dibalut kisah cinta ini akan membuat pembaca beresonansi dengan novel sejenisnya, seperti Twilight karya Stephenie Meyer. Jadi, segeralah baca novel ini, dan rasakan sensasi romantis penuh kejutan di dalamnya. Selamat membaca. []

M. Iqbal Dawami, pengasuh blog http://resensor.blogspot.com/. Aktif di Kere Hore Jungle Tracker Community (KHJTC) Yogyakarta

================

Rabu, 27 Oktober 2010

Tamasya ke Dunia Satwa

the Capture: Guardians of Ga’hoole #1Siapa bilang bahwa dunia fiksi hanya monopoli ras manusia? Nyatanya, dunia satwa pun jika diracik dengan menarik, dibumbui berbagai intrik dan perilaku laiknya manusia mampu menjadi sajian buku cerita yang sedap disantap.

Asumsi tersebut terbukti dengan kehadiran buku berjudul lengkap Guardians of Ga’hoole: The Capture ini. Mengisahkan tentang dunia fauna berjenis Burung Hantu yang dikenal sebagai binatang malam, pemalu serta sulit ditemukan secara liar. Dengan tokoh utamanya bernama Soren.

Lahir dari keluarga Burung Hantu Barn. Soren bersama ayahnya Noctus dan ibunya Marilla serta dua orang saudaranya Kludd dan Eglantine, tinggal dengan tenteram di sebuah pohon besar dalam hutan Tyto atau yang biasa dikenal dengan sebutan Tyto Alba, ditemani Mrs. Plithiver, ular buta yang menjadi pembantu keluarga.

Kedamaian tersebut pecah ketika Soren terjatuh dari rumahnya saat ia baru berusia dua minggu sehingga belum mampu mengepakkan sayap untuk terbang. Sialnya peristiwa tersebut terjadi ketika kedua orang tuanya tidak berada di rumah, tengah berburu mencari makanan. Sedangkan Mrs. Plithiver yang setia tidak mampu berbuat banyak karena intimidisi Kludd, dalang tragedi ini.

Akibatnya, Soren diculik oleh pasukan patroli St. Aegolius. Sebuah perkumpulan misterius yang tengah berusaha menyusun kekuatan dengan mengumpulkan telur-telur dari berbagai sub-ras dan kerajaan burung hantu untuk ditetaskan sekaligus dibentuk pasukan perang, dengan berkedok sekolah yatim piatu.

Gerombolan ini dipimpin oleh Skench, burung hantu bertanduk yang jahat. Dengan mengandalkan para prajuritnya terutama Spoorn, Jatt dan Jutt, Skench melakukan penculikan ke kerajaan-kerajaan burung hantu lain, baik secara diam-diam seperti yang dialami Soren, maupun melalui agresi militer besar-besaran dengan membinasakan kerajaan sasaran.

Untungnya Soren mendapatkan seorang teman yang cerdas di sekolah yatim piatu ini bernama Gylfie. Seperti halnya Soren, Gylfie pun selamat dari upacara “pembingungan”, sebuah prosesi yang bertujuan untuk menghilangkan memori para tawanan serta mematikan harapannya untuk kabur atau memberontak. Keduanya pun kemudian merencanakan pelarian, meskipun baru sekali berlatih terbang kepada burung hantu yang baik hati, Grimble.

Lolos dari sarang St. Aegolius, keduanya langsung melakukan pencarian terhadap keberadaan keluarga masing-masing. Sayang misi tersebut gagal, karena baik orang tua Soren maupun Gylfie, sudah tidak berada di tempatnya masing-masing. Di tengah kebingungan, keduanya berkenalan dan bersahabat dengan Twilight dan Digger. Berempat mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan ke sungai Hoole, tempat dimana tumbuhnya pohon Ga’Hoole nan legendaris.

Novel yang filmnya tengah diputar di bioskop seluruh Tanah Air ini, memiliki cerita yang unik. Selain mengangkat dunia burung hantu sebagai latarnya yang memang belum pernah ada, juga kekuatan ceritanya yang membuat para burung hantu tersebut layaknya manusia. Lengkap dengan karakter-karakternya yang kompleks, seperti penyayang, ambisius, setia kawan hingga perilaku-perilaku konyol. Hebatnya penulisnya mampu menghubungkan karakter-karakter yang berbeda dalam novel ini berdasarkan jenis spesies burung hantu yang beragam.

Selain itu, meskipun buku ini menceritakan tentang dunia imanjiner dengan mengusung cerita burung hantu layaknya manusia yang mampu berbicara, berpikir, dan bermimpi. Namun di luar hal tersebut, merupakan percikan ilmu pengetahuan dan sejarah burung hantu yang ingin ditebar oleh penulisnya.

Hal ini tidak mengherankan, mengingat Katryn Lasky, penulisnya, merupakan seorang penggemar burung hantu. Bahkan dalam menulis novel ini ia secara khusus melakukan penelitian tentang perilaku burung tersebut, seperti apa yang mereka makan, bagaimana terbang, dan bagaimana membuat sarang.

Membaca buku pertama dari rangkaian seri Guardians of Ga’hoole ini, mengingatkan kita pada karya Richard Bach, Jonathan Livingston Seagull, tentang burung camar yang “menembus awan” tahun 1970 yang telah terjual lebih dari tujuh juta eksemplar di seluruh dunia, ihwal orisinalitas ceritanya. Sebuah capaian yang tidak mustahil diraih buku ini.
Terlepas dari semua rangkaian cerita di dalamnya, kehadiran buku ini seakan memiliki pesan kuat. Bahwa kelestarian alam terutama hutan harus senantiasa dijaga, mengingat begitu banyak fungsi dan manfaatnya yang bukan sekedar untuk manusia, namun juga makhluk-makhluk lain yang habitatnya sangat bergantung kepadanya.

Dengan demikian buku ini bukan sekedar mengajak kita bertamasya ke dunia satwa, namun juga secara implisit memiliki pesan moril yang cukup tegas, bahwa keserakahan pada akhirnya hanya membawa kehancuran. Seperti keserakahan yang dihembuskan dari St. Aegolius.

Judul Buku: Guardians of Ga’hoole: The Capture
Penulis: Kathryn Lasky
Penerbit: Kubika
Cetakan: Pertama, 2010
Tebal: 338 Halaman

Peresensi:
Noval Maliki, Penggiat Demi Buku Institute, Tinggal di Yogyakarta

Minggu, 24 Oktober 2010

Burung Kebijaksanaan

the Capture: Guardians of Ga’hoole #1
BURUNG hantu (owl) memiliki kehidupan yang unik. Ia tidak saja memiliki bentuk wajah yang berbeda dengan jenis burung biasa, tapi juga dalam berperilaku. Burung satu ini tergolong spesies burung nokturnal (beraktivitas di malam hari), pemalu bahkan susah ditemukan.

Ia juga dianugerahi katajaman mata sehingga dapat melihat dan mengintai mangsa dari jarak yang sangat jauh. Kesan burung hantu yang hidup di malam hari itulah yang membuat spesies burung ini disebut-sebut sebagai jenis binatang yang menyeramkan: sebagai lambang burung yang jahat.

Tapi kesan itu tidak sepenuhnya benar. Dalam kepercayaan orang Yunani, burung ini justru dilambangkan sebagai burung kebijaksanaan dan memiliki sifat menolong.

Setidaknya, sisi kebijaksanaan dan penolong dari burung hantu itulah yang diwakili tokoh Soren (burung hantu Barn), Gylfie (burung hantu peri), Twilight (burung hantu kelabu besar), dan Digger (burung hantu Liang) yang siap menjadi burung-burung hantu kesatria untuk memanggul tugas mulia–mengikuti jejak kesatria burung hantu di zaman Glaux (seperti dikisahkan dalam legenda Ga`Hoole) yang terbang di malam hari untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.

Motivasi Soren untuk memanggul tugas mulia itu, tak lepas dari kemalangan hidup yang pernah ia jalani. Saat baru berumur tiga minggu dan belum bisa terbang, ia terjatuh dari sangkar. Ia pun mengalami nasib nahas. Sebab tidak lama kemudian, patroli St. Aegolius menculiknya dan ia dibawa ke sebuah jurang atau tebing–tempat ribuan anak-anak burung hantu diculik.

Di tempat yang disebut sebagai “sekolah untuk burung hantu yatim piatu” itu, Soren dan ribuan anak-anak burung hantu dididik dengan keras: tak diperkenankan untuk bertanya, dipaksa untuk bekerja, bahkan berbaris dan tidur di bawah sinar rembulan agar mengalami pembingungan.

Tak mustahil, jika efek dari peraturan itu menjadikan burung-burung hantu kecil itu bermata hampa, serupa mayat berjalan. Tapi Soren yang kemudian bersahabat dengan Gylfie tahu tipu muslihat mereka. Maka, Soren dan Gylfie yang cerdas berusaha menahan kantuk agar tak tidur di bawah sinar rembulan. Untuk bertahan dari tidur, Soren bercerita–pada Gylfie-tentang legenda Ga`Hoole sampai bulan menghilang. Akibatnya, keduanya “tidak mengalami pembingungan”. Tetapi, siksaan itu belum seberapa karena pada saat tertentu, sayap dan bulu anak-anak burung hantu itu digunduli agar tidak bisa terbang.

Setelah melakukan pengamatan dan tahu apa yang terjadi di St. Anggie, keduanya sadar: St. Anggie dibangun untuk misi rahasia dengan tujuan jahat. Patroli St. Aegolius menculik—anak-anak burung hantu untuk tujuan menguasai seluruh kerajaan burung hantu. Keduanya sadar segala sesuatu di St. Anggie terbalik. Maka, Soren dan Gylfie berjuang untuk tidak bingung dan tetap berdiri tegak: selanjutnya, berusaha lolos dari sergapan mereka.

Beruntung, keduanya kemudian bertemu dengan Hortense –burung hantu bintik–yang juga berjuang menyelamatkan telur-telur burung hantu dari hutan kerajaan Ambala yang dicuri patroli St. Aegolius. Tapi belum sempat Soren-Gylfie berhasil lolos, Hortense terbunuh akibat ketahuan menyelamatkan telur burung hantu. (S-2)

Lampung Post, Kamis, 21 Oktober 2010

Judul buku: The Capture: Guardians of Ga`Hoole #1
Penulis: Kathryn Lasky
Penerjemah: T. Dewi Wulansari
Penerbit: Kubika, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2010
Tebal: 338 halaman

Minggu, 10 Oktober 2010

SPIRIT DARI SEBUAH LEGENDA GA'HOOLE

BURUNG hantu (owl) memiliki kehidupan yang unik. Ia tidak saja memiliki bentuk wajah yang berbeda dengan jenis burung biasa, tapi juga dalam berperilaku. Burung satu ini tergolong spesies burung nokturnal (beraktivitas di malam hari), pemalu bahkan susah ditemukan. Ia juga dianugerahi katajaman mata sehingga dapat melihat dan mengintai mangsa dari jarak yang sangat jauh. Kesan burung hantu yang hidup di malam hari itulah yang membuat spesies burung ini disebut-sebut sebagai jenis binatang yang menyeramkan: sebagai lambang burung yang jahat.

Tapi kesan itu tidak sepenuhnya benar. Dalam kepercayaan orang Yunani, burung ini justru dilambangkan sebagai burung kebijaksanaan dan memiliki sifat menolong. Setidaknya, sisi kebijaksanaan dan penolong dari burung hantu itulah yang diwakili tokoh Soren (burung hantu Barn), Gylfie (burung hantu peri), Twilight (burung hantu kelabu besar) dan Digger (burung hantu Liang) yang siap menjadi burung-burung hantu ksatria untuk memanggul tugas mulia --mengikuti jejak ksatria burung hantu di zaman Glaux (seperti dikisahkan dalam legenda Ga`Hoole) yang terbang di malam hari untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.

Motivasi Soren untuk memanggul tugas mulia itu, tak lepas dari kemalangan hidup yang pernah ia jalani. Saat baru berumur tiga minggu dan belum bisa terbang, ia terjatuh dari sangkar. Ia pun mengalami nasib naas. Sebab tidak lama kemudian, patroli St. Aegolius menculiknya, dan ia dibawa ke sebuah jurang atau tebing --tempat ribuan anak-anak burung hantu diculik. Di tempat yang disebut sebagai "sekolah untuk burung hantu yatim piatu" itu, Soren dan ribuan anak-anak burung hantu dididik dengan keras: tak diperkenankan untuk bertanya, dipaksa untuk bekerja, bahkan berbaris dan tidur di bawah sinar rembulan agar mengalami pembingungan.

Tak mustahil, jika efek dari peraturan itu menjadikan burung-burung hantu kecil itu bermata hampa, serupa mayat berjalan. Tapi Soren yang kemudian bersahabat dengan Gylfie tahu tipu muslihat mereka. Maka, Soren dan Gylfie yang cerdas berusaha menahan kantuk agar tak tidur di bawah sinar rembulan. Untuk bertahan dari tidur, Soren bercerita --pada Gylfie- tentang legenda Ga`Hoole sampai bulan menghilang. Akibatnya, keduanya "tidak mengalami pembingungan". Tetapi, siksaan itu belum seberapa karena pada saat tertentu, sayap dan bulu anak-anak burung hantu itu digunduli agar tidak bisa terbang.

Setelah melakukan pengamatan dan tahu apa yang terjadi di St. Anggie, keduanya sadar: St. Anggie dibangun untuk misi rahasia dengan tujuan jahat. Patroli St Aegolius menculik -anakanak burung hantu untuk tujuan menguasai seluruh kerajaan burung hantu. Keduanya sadar segala sesuatu di St Anggie terbalik. Maka, Soren dan Gylfie berjuang untuk tidak bingung dan tetap berdiri tegak: selanjutnya, berusaha lolos dari sergapan mereka. Beruntung, keduanya kemudian bertemu dengan Hortense --burung hantu bintik-- yang juga berjuang menyelamatkan telur-telur burung hantu dari hutan kerajaan Ambala yang dicuri Patroli St Aegolius. Tapi belum sempat Soren-Gylfie berhasil lolos, Hortense terbunuh akibat ketahuan menyelamatkan telur burung hantu.

Soren dan Gylfie yang cerdik kemudian meminta bantuan Grimble (burung hantu boreal). Grimble (yang ditahan oleh patroli St Aegolius sebagai sandra dengan jaminan tak akan diganggu keluarganya) pun siap membantu dan bahkan mengajari Soren dan Gylfie cara terbang. Bantuan dan pertolongan Grimble ternyata tak sia-sia. Soren dan Gylfie akhirnya bisa terbang dan lepas dari sekapan tersebut, meski Grimble harus menebus dengan nyawanya --karena dibunuh Skench (burung hantu bertanduk yang menjadi jenderal Ablah St. Aegolius).

Tetapi setelah Soren dan Gylfie berhasil kabur dari St Aegolius, bukan berarti semua selesai. Keduanya masih harus mencari keluarganya. Pencarian keduanya itulah yang menjadikan kedua burung hantu itu kemudian berpetualang. Apalagi, setelah bebas keduanya bertemu Twilight dan Digger. Pelarian dari St Aegolius juga menjadi titik awal untuk tugas mulia selanjutnya yang lebih berat lagi: melawan kejahatan patroli St Aegolius di bawah kekuasaan Skench.

Meski novel fantasi ini tergolong kisah fabel: dengan tokoh-tokoh burung hantu (juga dua burung elang dan seekor ular buta), tetapi buku ini ditulis dengan serius dan bahkan ditunjang penelitian yang mendalam. Semula, memang pengarang melakukan penelitian burung hantu dengan mendalami perilaku mereka: apa yang mereka makan, bagaimana mereka terbang, membuat sarang dan sebagainya untuk menulis buku non-fiksi. Tetapi saat pengarang yang kini tinggal di Cambridge (Missachusetts) ini hendak menulis buku non-fiksi, ia sadar bahwa buku yang akan dia tulis itu tidaklah mudah. Akhirnya, ia menulis kehidupan burung hantu dalam novel (fantasi).

Meski demikian, pengarang bisa menghidupkan tokoh-tokoh burung hantu dalam novel ini dengan gemilang. Apalagi novel ini dilengkapi dengan sekelumit sejarah, perilaku, karakter dan jenis-jenis burung hantu. Alhasil, novel ini pun menjadi "sebuah bacaan yang memikat". Kelebihan lain, Kathryn Lasky --yang telah menulis banyak buku, fiksi dan non-fiksi di antaranya: Interupted Journey: Saving Endangered Sea Turtles dan The Night Journey: Beyond the Burning Time dan mendapat sejumlah penghargaan-- mampu menulis kisah tentang kehidupan burung hantu dengan menawan, memikat meski ditulis dengan "bahasa yang sederhana".

Tapi kesan sederhana itu tak sepenuhnya menjadikan novel ini tidak berbobot. Karena Lasky mampu mengubah kehidupan burung hantu menjadi cerita yang unik, menarik dan menawan. Juga, ia bisa bercerita dengan lancar. Setiap jeda dari penggalan kisah dilingkupi dengan suspense sehingga meninggalkan kesan penasaran di benak pembaca. Rasanya, tidak dapat berhenti membaca jika belum sampai pada akhir halaman. Semua kelebihan itulah, yang mengantarkan novel ini kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul Legenda of The Guardians: The Owl of Ga`Hoole.

*) N. Mursidi, cerpenis dan owner toko buku online www.etalasebuku.com

Sumber: Koran Indo Pos dan Jawa Pos, Minggu 10 Oktober 2010 *